https://ubs.ac.id/foto_berita/9099604c50caac9b3eb62ae20ba33d88.png
  • By Pusdatin
  • In Design
  • Posted 22 April 2026

DAMPAK PELECEHAN DI RUANG DIGITAL

Pelecehan fisik di ruang digital seperti grup WhatsApp, memiliki dampak luka psikologis yang sama beratnya ke korban. Luka psikologis tidak selalu ditentukan oleh bentuk tindakan dan perlakuan yang dialami, tetapi oleh makna pengalaman traumatis yang dirasakan korban.
Pelecehan verbal atau digital dapat memberikan dampak yang sangat besar karena korban merasa direndahkan, dipermalukan, dijadikan objek, hingga kehilangan rasa aman.

Dalam beberapa kasus, efek emosionalnya bisa setara atau sangat berat, terutama bila percakapan tersebut menyebar luas dan diketahui banyak orang. Luka fisik mungkin tidak ada, tetapi luka pada harga diri, martabat, dan rasa aman bisa sangat dalam dirasakan.
Secara psikologis, yang terluka adalah self-esteem (harga diri), sense of safety, trust terhadap lingkungan sosial, body image, dan rasa tidak berdaya,. Korban bisa terus mengulang percakapan tersebut dalam pikirannya (intrusive thought) dan dapat menjadi PTSD (post traumatic stress disorder), sebuah gangguan jiwa yang dipicu oleh peristiwa traumatis.

Pelecehan di ruang digital (cyber harassment/kekerasan berbasis gender online) memiliki dampak psikologis yang serius, bahkan menurut ahli sering kali dianggap sama berat atau lebih berat daripada pelecehan fisik karena sifatnya yang menetap dan dapat dilihat banyak orang. 

Ahli menyoroti bahwa anonimitas di dunia maya membuat pelaku lebih berani, sementara korban sering merasa terpojok karena jejak digital pelecehan tersebut sulit dihilangkan sepenuhnya.

luka psikologis akibat pelecehan di ruang digital seperti WhatsApp memiliki bobot yang sama beratnya dengan pelecehan fisik. Pengalaman traumatis ini sangat bergantung pada makna yang dirasakan oleh korban.

Sesuatu yang salah bisa terasa normal ketika divalidasi oleh kelompok ketika satu anggota memulai candaan seksual dan ditanggapi dengan tawa oleh anggota lain, perilaku menyimpang tersebut dianggap sebagai hal yang biasa bagi kelompok tersebut.

Faktor lain yang memperparah situasi adalah disinhibition effect, sebuah kondisi psikologis di mana seseorang merasa lebih bebas dan kurang terkendali saat berinteraksi di dunia maya dibandingkan tatap muka.

Ketiadaan interaksi fisik secara langsung menyebabkan penurunan empati karena pelaku tidak melihat reaksi emosional atau rasa sakit yang dirasakan oleh korban di balik layar ponsel.

Para pelaku sering mencari validasi sosial, pengakuan dari teman, hingga upaya menunjukkan superioritas maskulinitas melalui konten yang melecehkan tersebut.

Kecenderungan pelaku untuk merasionalisasi tindakan sebagai sekadar candaan merupakan bentuk pelepasan tanggung jawab moral atas dampak psikologis yang diderita korban.

Pelajaran utama ysng dapat kita ambil dari kasus kekerasan seksual bahwa tidak hanya fisik, tapi juga verbal/digital, menuntut sanksi tegas, serta perlunya penegakan etika di lingkungan akademik. Adapun hal yang harus kita fahami dan lebih waspada, bahwa : 

  • Pelecehan Berbasis Digital Adalah Nyata: Obrolan di ruang digital (contoh: WhatsApp Group) yang mengandung unsur seksual merupakan bentuk pelecehan verbal yang serius dan tidak bisa dianggap sepele.
  • Keselamatan Korban Utama: Prioritas utama harus pada perlindungan dan keadilan korban, bukan melindungi reputasi institusi.
  • Pentingnya Etika Akademik: Mahasiswa, terutama di fakultas hukum, harus menjaga etika dan moralitas baik di dunia nyata maupun di media sosial.
  • Transparansi Investigasi: Institusi pendidikan wajib melakukan investigasi transparan dan cepat dalam merespons laporan dugaan pelecehan.
  • Sanksi Tegas dan Efek Jera: Diperlukan kebijakan yang tegas, seperti ancaman drop out (DO) atau sanksi akademik lain, untuk memberikan efek jera dan menjamin keamanan lingkungan kampus.
Darurat Kekerasan Seksual: Kasus ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan masih menghadapi situasi darurat kekerasan seksual, sehingga diperlukan sistem pengawasan dan edukasi yang lebih baik

Tidak ada sesuatu pun di timbangan hari kiamat yang lebih berat dari pada akhlak mulia.

HR. Abu Dawud no.4799